tentang bapak

Tentang Bapak

Bapak

Sering kali, kita hanya mengerti sepenggal dari cerita hidup orang tua kita.

Beberapa hari terakhir, saya menemukan bagian-bagian cerita tentang Bapak yang sebelumnya tidak pernah saya tahu. Tentang kiprah dan sepak terjangnya, kebiasaan-kebiasaannya, serta hal-hal yang beliau sukai.

Salah satu cerita itu saya temukan dalam tulisan ini.

Terima kasih, Oom Arif Afandi, sudah berbagi cerita tentang Bapak. Maturnuwun sanget sudah menjadi sahabat Bapak selama ini.

Semoga tulisan ini abadi dan bisa membantu cucu-cucu beliau untuk lebih mengenal kakeknya suatu hari nanti.

Selamat jalan, Pak. Swargi Langgeng.

— 00 —

Wisjnubroto Heruputranto: Jejak Nasionalis Santri dalam Laku Topo Broto

Ditulis oleh: Arif Afandi

Ini tahun duka bagi saya. Kehilangan dua orang dekat dalam waktu berdekatan. Pertama, besan alias ayah anak menantu saya dr Abdurahman Polanunu. Kedua, kawan perjuangan Wisjnubroto Heruputranto.

Yang saya sebut terakhir wafat Rabu 12 Agustus 2026 di RS Darmo Surabaya.Dimakamkan esok harinya di Astana Oetara, pemakaman keluarga Keraton Mangkunegaran di Solo. Makam keluarga besarnya di Kartosuro.

Om Wisjnu –demikian saya biasa memanggil– adalah suami tokoh perempuan Surabaya yang antropolog Pingky Saptandari. Ia seorang nasionalis santri yang juga aktif di Al Khidmah dan Ponpes Alfitrah, Kedinding, Surabaya.

Di pondok pesantren itulah saya mulai mengenalnya secara dekat. Ia salah satu santri kesayangan almarhum KH Ahmad Asrori Al Ishaqi, pimpinan Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah al Utsmaniyyah. Juga pendiri pondok sekaligus jemaah dzikir Al Khidmah.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini juga dikenal sebagai seorang bankir. Ia dulu menjadi legal Bank Niaga saat bank tersebut dipimpin bankir terkenal di Indonesia: Robby Johan. Juga sempat mempunyai kantor konsultan hukum di Surabaya.

Ada suatu masa, kami bersua setiap habis Jumatan. Di Ponpes Kedinding. Kiai Asrori selalu menjamu para santri khususnya setiap habis salat Jumat. Saya suka sekali momen itu karena selalu bisa menikmati makan enak.

Apalagi selama satu sampai dua jam mendapat nasihat-nasihat dari kiai. Ilmu kehidupan yang tidak mesti didapat santri pada umumnya. Juga seringkali mendapatkan wawasan ilmu tentang bernegara dan bermasyarakat dari persepktif agama.

Om Wisjnu sangat istimewa di depan Kiai Asrori. Setiap jamuan makan, ia selalu disediakan khusus ikan mujair goreng yang menjadi kesukaannya. Saya dan santri lain tak berani mengganggu untuk ikut mencicipinya. Karena itu memang hanya jatahnya.

Bagaimana seorang bankir profesional bisa bergulat dalam dunia thariqat? Saya tidak pernah menguliknya. Yang pasti, ia orang legal yang sangat paham tentang korporasi.

Ketika menjadi anggota P4MU (Perhimpunan Perawatan Penderita Penyakit Mata Undaan), ia langsung menjadi mitra diskusi untuk membangun tata kelembagaannya. Hampir 8 tahun banyak hal jejak tangan dia dalam pembenahan perkumpulan pemilik RS Mata Undaan.

Ia membantu memahami bahwa niat baik saja tidak cukup untuk mengelola lembaga sosial. Pengabdian memerlukan sistem. Amanah harus dijaga melalui tata kelola. Kekayaan perkumpulan harus dilindungi dengan aturan. Sementara kegiatan usaha perlu dikelola secara profesional agar misi sosial dapat terus berlangsung.

Di sinilah saya melihat pertemuan yang menarik dalam diri Om Wisjnu. Ia bisa berbicara mengenai anggaran dasar, struktur korporasi, hak dan kewajiban organ organisasi, serta perlindungan aset. Akan tetapi, semua itu tidak pernah terlepas dari kesadaran bahwa lembaga dibentuk untuk melayani manusia.

Baginya, hukum bukan sekadar susunan pasal. Hukum adalah pagar agar amanah tidak mudah diselewengkan. Korporasi bukan hanya mesin pencari laba, melainkan instrumen untuk membuat pengabdian menjadi lebih berkelanjutan. Profesionalisme tidak boleh mematikan nilai. Tapi nilai membutuhkan profesionalisme agar tidak berhenti menjadi slogan.

Belakangan saya merenungkan namanya: Wisjnubroto

Wisjnu atau Wisnu dalam khazanah kebudayaan Jawa merujuk pada sosok pemelihara kehidupan dan penjaga keseimbangan. Ia hadir bukan terutama untuk menciptakan sesuatu dari awal, melainkan untuk merawat agar kehidupan tetap berlangsung dan tatanan tidak mengalami kehancuran.

Bukankah itu pula yang dilakukan Om Wisjnu sepanjang hidupnya?

Ia ikut menjaga lembaga keagamaan, merawat persahabatan, membenahi tata kelola organisasi sosial, dan memberi landasan hukum bagi korporasi. Ia tidak selalu berdiri di panggung paling depan. Namun, pemikiran dan sentuhan tangannya ikut menjaga agar banyak hal dapat berjalan dengan benar.

Nama “Broto” juga mengingatkan saya pada kata “brata” dalam tradisi Jawa: laku, tekad, pengendalian diri, dan kesetiaan menjalani prinsip hidup. Karena itulah saya ingin mengenangnya sebagai Wisjnu yang menjalani topo broto—laku prihatin dan pengendalian diri untuk menemukan kedalaman hidup.

Topo bukan berarti meninggalkan dunia. Topo justru bisa dilakukan di tengah kesibukan dunia. Seorang bankir dapat bertapa melalui integritasnya. Seorang ahli hukum dapat bertapa dengan tidak menjual pengetahuannya untuk membenarkan yang salah. Seorang aktivis sosial dapat bertapa dengan bekerja tanpa selalu meminta pengakuan.

Om Wisjnu menjalani topo broto itu di banyak ruang. Di dunia korporasi, ia bekerja dengan disiplin profesional. Di lingkungan pesantren, ia menundukkan diri sebagai santri. Di tengah organisasi sosial, ia menjadi penjaga tata kelola. Dalam gerakan kebangsaan, ia bergaul dengan para tokoh lintas kalangan tanpa kehilangan identitasnya sebagai seorang nasionalis santri.

Pergaulannya dengan tokoh-tokoh nasional, termasuk almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, menunjukkan keluasan cakrawalanya. Gus Sholah dikenal sebagai figur yang mampu mempertemukan keislaman, kebangsaan, demokrasi, dan tata kelola kelembagaan. Nilai-nilai itulah yang juga hidup dalam diri Om Wisjnu.

Keduanya berasal dari tradisi yang meyakini bahwa mencintai agama tidak perlu dilakukan dengan menjauh dari negara. Menjadi santri tidak berarti menutup diri dari modernitas. Sebaliknya, nilai-nilai spiritual harus hadir dalam tata kelola organisasi, dunia usaha, pelayanan sosial, dan kehidupan kebangsaan.

Om Wisjnu dapat berdiskusi dengan kalangan pesantren, profesional, aktivis, maupun tokoh nasional. Ia menjadikan jejaring tersebut bukan sekadar pergaulan elite. Baginya, persahabatan merupakan jalan mempertemukan gagasan dan memperbesar manfaat.

Itulah nasionalisme santri yang saya lihat dalam dirinya. Nasionalisme yang tidak banyak berteriak, tetapi hadir dalam pekerjaan nyata. Nasionalisme yang tumbuh dari kesadaran bahwa Indonesia hanya dapat dirawat melalui perjumpaan, dialog, kepercayaan, serta kesediaan membangun institusi yang sehat.

Kepergiannya meninggalkan kehilangan besar bagi keluarga, sahabat, Jamaah Al Khidmah, Pondok Pesantren Al Fithrah, P4MU, dan semua orang yang pernah bekerja bersamanya. Kami kehilangan seorang sahabat yang dapat menghubungkan langit spiritual dengan bumi profesional. Seorang santri yang memahami korporasi. Seorang ahli hukum yang tetap mempunyai kepekaan sosial. Seorang nasionalis yang berakar kuat dalam tradisi keagamaan.

Saya juga kehilangan teman diskusi. Orang yang bisa memberi pandangan secara lugas, tetapi tidak merasa paling tahu. Orang yang mengingatkan tanpa menggurui. Orang yang ikut menjaga P4MU dan Rumah Sakit Mata Undaan bukan hanya sebagai aset organisasi, melainkan sebagai amanah kemanusiaan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kini Om Wisjnu telah menyelesaikan topo broto-nya di dunia. Sang pemelihara itu telah kembali kepada Sang Maha Pemelihara. Namun, laku hidupnya meninggalkan pesan: jabatan akan berakhir, korporasi dapat berubah, dan organisasi bisa berganti pengurus, tetapi jejak pengabdian akan tetap tinggal.

Selamat jalan, Om Wisjnu

Ikan mujair goreng di meja Kiai Asrori itu mungkin akan selalu mengingatkan kami kepadamu. Akan tetapi, lebih dari itu, kami akan mengingatmu sebagai manusia yang menjaga amanah dengan ilmu, merawat persahabatan dengan ketulusan, dan mengabdi kepada bangsa dengan jalan sunyi.

Al-Fatihah.

Sumber: https://harian.disway.id/read/962793/wisjnu-topo-broto

Hello!

A Father of two.
Love Marketing and Business Development. Currently expanding knowledge and expertise in coding and Website Development.

Leave a Comment